Satu Sekolah Tidak Lulus UN, Sekolah Ditutup !
Kondisi SMA yang memprihatinkan tidak hanya ada di kawasan pelosok atau terpencil. Di Jakarta pun ada. SMA Abadi, misalnya. Selain kondisi sekolah yang mengenaskan, tahun ini semua murid kelas XII di sekolah itu tak lulus ujian nasional (unas).
M. Hilmi Setiawan - Jakarta
TERNYATA, nasib SMA yang terletak di Jalan Cupang, Teluk Gong, Penjaringan, Jakarta Utara, itu tak seabadi namanya. Tahun ini SMA itu diputuskan untuk ditutup.
SMA Abadi berada di kompleks milik Yayasan Pengembangan Pendidikan Islam Panji Muslimin Indonesia (YAPMI). Di kompleks itu juga ada sekolah lain. Yaitu, SMA Mutiara Hati, yang menampung anak dari keluarga bekas gusuran di kawasan Pluit. Kondisi kedua sekolah menengah atas itu tidak berbeda: sama-sama memprihatinkan.
Khusus SMA Abadi lebih menyedihkan. Tahun ini sekolah yang berdiri pada 1985-1986 itu ditutup karena tujuh siswa kelas XII yang mengikuti unas 2011 dinyatakan tidak lulus. Saat Jawa Pos ini berkunjung, kondisi SMA Abadi sepi. Sekilas, dari luar gedung sekolah tersebut seperti mati. Tidak difungsikan lagi. Apalagi, tepat di samping gerbang masuk sekolah sudah digunakan sebagai tempat bermukim. Aneka pakaian basah dijemur di samping gerbang masuk.
Lebih ke dalam lagi, baru terlihat beberapa siswa. Tapi, mereka adalah siswa SMA Mutiara Hati.
SMA Abadi berada di lantai dua kompleks pendidikan YAPMI. Tangga ke lantai dua lumayan lebar, tetapi lantainya cukup kotor, tidak terawat. Kondisi serba terbatas juga tampak di ruang guru. Di sekolah itu terdapat 10 guru, termasuk kepala dan wakil kepala sekolah. Tetapi, hanya ada 5 meja-kursi guru. Ini berarti guru harus duduk bergantian kalau semuanya masuk. Selain itu, ada satu sofa siku yang sudah kusam. "Ya, beginilah kondisi kami," kata Wakil Kepala SMA Abadi Afgani Syam.
Jangan membayangkan di kantor ini ada sejumlah komputer yang mendukung kinerja guru. Perangkat komputer di sekolah itu hanya ada satu unit. Itu pun kondisinya sudah rusak. Afgani mengaku belum sempat membetulkan komputer tersebut, karena masih shock dengan angka kelulusan di sekolahnya.
Rak buku yang biasanya menghiasi ruang guru masih bisa ditemukan. Tapi, rak tersebut cukup kecil. Rak itu hanya digunakan untuk menaruh buku besar nomor induk siswa, absensi guru, buku paket, dan beberapa buku lembar kerja siswa (LKS).
Di dinding ruang guru tidak terpampang foto Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Boediono layaknya di sekolah-sekolah. Yang ada, hanya foto hitam putih Syamsuddin Syam, pendiri YAPMI sekaligus orang tua Afgani. Dia menuturkan, foto itulah yang selalu membuatnya bersemangat mengajar, meski jumlah siswa terbatas.
Afgani lantas mengajak Jawa Pos mengunjungi kelas-kelas untuk kegiatan belajar mengajar (KBM). Kondisinya sama. Seluruh bangku belajar siswa tidak terawat dan kusam. Sebab, sejak terbit keputusan penutupan oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta, tidak ada lagi aktivitas KBM.
Di sekolah itu juga tidak ada perpustakaan dan laboratorium. Afgani yang kebetulan mengajarkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), mengalami kesulitan saat harus praktik. Dia mengaku, hampir seluruh pelajaran yang dia sampaikan adalah materi tekstual, tanpa praktik.
Sambil menikmati secangkir kopi susu di ruang guru, Afgani lantas bertutur panjang tentang kondisi sekolahnya. Bapak tiga anak itu menjelaskan, dirinya adalah alumnus SMA Abadi. "Saya lulus 1996. Saat itu satu kelas jumlahnya masih 43 siswa," kenang Afgani.
Dalam perkembangannya, siswa yang belajar di SMA Abadi menurun drastis. Pemicunya, sekolah ini tidak lagi mampu mengurus akreditasi. Afgani mengaku, terakhir mendapatkan akreditasi dengan status diakui pada 2004. Karena tidak bisa mengurusnya, status akreditasi sekolah ini jatuh menjadi hanya terdaftar. Nomor induk sekolah (NIS) ini adalah A.02024021.
Pria kelahiran Jakarta, 25 April 1978 itu menuturkan, keterbatasan dana membuat pihak yayasan dan sekolah tidak mendaftarkan akreditasi. Dari beberapa informasi yang dia kumpulkan, biaya akreditasi sekolah untuk tingkat SMA minimal Rp 10 juta. "Belum lagi setiap ada tim yang menyurvei, pasti harus diamplopi," tuturnya.
Dia mengaku sudah tahu risiko dengan tidak mendaftarkan akreditasi sekolah. Yaitu, jumlah siswa bakal menurun. Meski begitu, dia mengaku tetap berpromosi untuk menjaring siswa baru. Caranya mulai menyebar brosur hingga promosi door to door. Pada brosur yang dibuat, status akreditasi sekolah tidak dicantumkan.
Data terakhir, siswa kelas XII SMA Abadi berjumlah tujuh orang. Enam laki-laki dan satu perempuan. Untuk kelas XI dan X, masing-masing dua orang. Jadi, satu sekolah hanya ada 11 murid.
Tanpa malu-malu Afgani menuturkan bahwa setiap siswa ditarik SPP Rp 100 ribu setiap bulan. Jadi, per bulan dana yang terkumpul Rp 1.100.000. Pemasukan lain adalah uang masuk Rp 500 ribu per siswa. Sementara itu, biaya operasional yang dikeluarkan sekolah setiap bulan tidak kurang dari Rp 4 juta. Jumlah itu termasuk untuk listrik, gaji guru, dan pengurus yayasan.
Pengeluaran tersebut, antara lain, untuk gaji guru Rp 300 ribu per bulan. Selain itu, ada tagihan listrik dan honor pengurus yayasan. Untuk menyiasati kondisi besar pasak daripada tiang itu, yayasan memiliki beberapa unit usaha. Di antaranya lembaga bimbingan belajar (LBB) yang secara intensif membimbing komputer.
Sesekali, LBB ini dijadikan laboratorium SMA Abadi. Selain itu, yayasan menyewakan halaman sekolah untuk dijadikan tempat usaha oleh masyarakat. Misalnya sebagai warung dan tempat percetakan. "Semua tidak masalah. Jika dari siswa saja tidak cukup," tandas sarjana akuntansi di STIE Dr Moechtar Talib Jakarta itu.
Gaji guru di SMA Abadi memang jauh dari layak. Sebagai perbandingan, upah minimum provinsi (UMP) di DKI Jakarta mencapai Rp 1.290.000. Imbas dari kondisi tersebut, para guru tidak fokus mengajar.
Afgani sendiri mengatakan, para guru yang mengajar di SMA Abadi lebih tepat disebut beribadah daripada bekerja. "Setelah mengajar, ada yang bekerja atau mengajar di sekolah lain," tandasnya.
Begitu pula dirinya. Selain mengajar, Afgani menjadi sales peralatan audio mobil. Bukan hanya itu. Untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya, dia juga menarik ojek. "Ya, yang ngojek ke saya biasanya teman-teman dekat," tutur Afgani sedikit mengelak.
Kondisi itulah yang dia sebut memengaruhi kualitas belajar siswa. Meskipun delapan dari sepuluh guru bertitel sarjana, mereka sulit fokus mengajar. Afgani lantas menyeletuk, kepala SMA Abadi saja masih berijazah SMA. "Ayatullah (kepala SMA Abadi, Red) sekarang sedang skripsi. Insya Allah wisuda Oktober tahun ini," tandas Afgani.
Kabar angka kelulusan nol persen diterima Afgani dari Ayatullah pada Sabtu 14 Mei. Sementara pengumuman kelulusan dijadwalkan Senin 16 Mei. Saat menerima kabar tersebut, Afgani mengaku kaget. Meskipun awalnya sempat pesimistis, dia tidak menyangka bahwa seluruh siswanya gagal total.
Nilai rata-rata terbaik yang didapat siswa SMA Abadi sebesar 5,3. "Hanya ada dua siswa yang mendapatkan nilai terbesar itu," tuturnya.
Nilai yang paling hancur para siswa adalah matematika. Rata-rata nilainya hanya satu koma sekian. Nilai yang cukup bagus hanya di bahasa Indonesia dengan rata-rata enam koma sekian.
Mengetahui angka kelulusan seperti itu, Afgani mengaku harus menjaga perasaan siswa. Untuk itu, dia langsung memanggil seluruh siswa pada Minggu 15 Mei lalu. Dia tidak perlu menggunakan undangan untuk memanggil seluruh siswanya. Cukup lewat SMS. Sebab, seluruh nomor siswa kelas XII sudah tersimpan di HP Afgani.
Saat dikumpulkan di ruang guru, para siswa tadi tidak berlebihan mengekspresikan kekecewaan. "Tidak ada yang menangis," tutur Afgani. Dia juga sempat bertanya kepada siswa, bagaimana jika nanti ditanya siswa dari sekolah lain. "Mereka malah bilang tetap mengaku lulus dan ikut konvoi," tutur Afgani. Jawaban para siswa itu cukup menghibur Afgani yang sudah diselimuti kekecewaan.
Kini keputusan penutupan sekolah itu sudah ditetapkan. Afgani yang juga sekretaris yayasan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia menyerahkan seluruh keputusan tersebut kepada panitia. Empat siswa (kelas X dan XI) terpaksa dimasukkan ke SMA Mutiara Hati yang masih satu kompleks. "SMA Mutiara Hati ini murni sekolah kejar paket. Jadi, ijazah mereka nanti Kejar Paket C," katanya.
Asa belum padam di benak Afgani. Sebagai generasi penerus pendiri yayasan, dia tetap optimistis ada jalan keluar untuk menghidupkan kembali SMA Abadi. Dia mengatakan, jika alasan penutupan adalah capaian kelulusan dan jumlah siswa yang sedikit, dinas pendidikan setempat bisa membantu mencarikan jalan. "Tapi kondisinya sekarang, kami harus tutup," ujar Afgani.
Baca Artikel Menarik Lainnya :
- Amikom.us Tempat Belanja Hosting Murah |
- Meriahkan Pesta Ulang Tahun Bersama GarudaFood |
- Mari Berkomunitas Di Faceblog |
- Segala Info Tentang Kontes SEO |
- Radio Streaming Murah |




thx info.a....
Sekolah yg mmprihatinkan....
Jdi ini yg kata.a gk lulus 100%
kesian banget tuh, gurunya pada minggat kemana gan..??
cruzader n manyunte @ ea sob.... ksian bgt yahhh,,,