Satu Keluarga Derita Gangguan Jiwa !
LARANGAN, BREBES - Seorang wanita lansia warga Desa Rengaspendawa di RT 9 RW 5, Kecamatan Larangan hidup dengan empat anak penyandang gangguan jiwa. Meski sering mendapat cemoohan warga, namun sang ibu tetap memperhatikan keperluan anak, termasuk makan dan membangun tempat tinggal.
Di sela-sela kesibukannya meladeni tukang, Suyem tetap tidak meninggalkan kewajiban sebagai ibu untuk merawat anak-anaknya. Sesekali dia menengok keluar untuk memantau atau mencari keberadaan kelima anaknya. Maklum, ibu lanjut usia ini harus menghidupi ke enam anaknya yang empat diantaranya menderita gangguan jiwa.
Suyem menyadari, penyakit jiwa yang diderita anaknya ini memang cukup merepotkan. Betapa tidak, dari lima anak tersebut, hanya dua yang mau menunggui orang tuanya. Lainnya, ada yang keluyuran di pasar, jalan-jalan tidak tentu arah dan tujuan. Dua anak yang selalu menunggui sang ibu adalah Rokilah dan Sukur. Rokilah (33) menderita gila saat menjadi TKI di Arab Saudi, wanita ini dipulangkan majikan karena dianggap menderita gangguan jiwa. Saat berada di rumah, tidak jarang Ilah, panggilan akrabnya kerap diejek tetangganya. Meski demikian, ia kerap menuruti kemauan para tetangga untuk mengerjakan sesuatu saat dimintai tolong.
Sementara, Sukur (35) anak dari Suyem lainnya, sudah menampakkan gejala serupa. Saat ini lelaki tersebut terlihat normal, karena sedang mengerjakan sesuatu. Namun, gejala itu muncul saat dirinya tengah menyendiri. Dua anak Suyem lainnya, Rokheti dan Rokhidah hanya pulang saat senja. Mereka setiap hari keluar rumah dan pulang sore harinya. Menurut tetangga sekitar, anak anak tersebut sudah menderita gangguan jiwa yang sangat parah. Sementara Saefudin dan Alwi adalah anak Suyem yang pertama dan kedua, normal seperti anak anak pada umumnya.
Menurut Suyem, meski memiliki anak gila, ia tetap telaten merawatnya. Bahkan dengan sisa uang milik anaknya dari hasil menjadi bekerja sebagai TKI di Suadi Arabia, ia membeli material dan membangun tempat tinggal yang layak. “Untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, saya menjual kayu bakar. Jika sedang kurang sehat, saya pun hanya mengandalkan belas kasihan orang,” kata Suyem, Kamis (14/4) kemarin.
Suyem mengaku ingin sekali mengobati anak anaknya tersebut, sang ibu ingin melihat anak anaknya hidup normal sebelum dirinya meninggal. Namun apa daya, alasan ekonomi menjadi faktor yang menghalanginya. Karyo (70), Ketua RT 9/ RW 5 Desa Rengaspendawa, mengaku sebelum membangun rumah yang layak dari hasil menjadi TKI, keluarga ini hidup di sebuah gubuk reot. Ruangan seukuran 4 kali 3 meter ini dipakai untuk ruang tidur, dapur dan WC. “Gangguan jiwa pada anak-anak Suyem sudah terlihat saat mereka menginjak dewasa. Padahal saat masih usia anak anak, mereka hidup normal seperti anak lainnya,” ujar Karyo.
sumber:radartegal



